Blog Manajemen

Kumpulan berbagai artikel terkait manajemen

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive

Di masyarakat kita, sales adalah profesi yang citranya kurang baik. Mereka dianggap tukang membual, cenderung annoying, tak jarang suka tipu-tipu agar barangnya laku dan dapat komisi. Untuk menjadi sales juga biasanya tidak memerlukan pendidikan/pelatihan khusus sehingga dianggap profesi rendahan. Sales berbeda dengan profesi seperti dokter, lawyer, akuntan, atau profesi lain yang membutuhkan pendidikan tertentu.

Tapi, Robert Louis Stevenson pernah mengatakan bahwa, “Everyone lives by selling something.“ Seorang pebisnis hidup dengan menjual produk/jasa yang dihasilkannya. Seorang atlet olahraga hidup dengan menjual bakat fisik yang dimilikinya. Seorang musisi hidup dengan jualan bakat seni yang dia miliki. Seorang pemimpin hidup dengan menjual ide, perubahan, contoh, dan pengaruh yang dimilikinya.

Begitu juga dengan kita, saya, dan Anda. Ketika melamar pekerjaan, Anda juga menjual diri Anda kepada instansi yang Anda tuju. Ketika mendekati lawan jenis Anda, Anda juga mengemas dan me-marketing-kan diri Anda kepada si dia.

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active

Tak bisa dipungkiri, media sosial adalah teknologi yang mampu mengakumulasi beragam informasi yang pernah ada sepanjang sejarah umat manusia dalam format yang begitu ringkas dan sederhana. Media sosial membuat kita bisa mengakses informasi tentang kehidupan dan masalah orang lain hingga membuat kita seolah ikut merasakan langsung pengalaman itu. Siapapun orang itu—kerabat, teman kerja, selebritis, politisi, hingga presiden—they’re just one click away.

Akibatnya, konsep “life streaming” dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Kegiatan memonitor aktivitas orang lain menjadi hal yang wajar. Kita mengikuti aktivitas orang itu lewat Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan sebagainya. Monitoring of oneself and others thus becomes an expected normative part of this social interaction. Sampai-sampai, ketika seseorang yang kita “follow” di media sosial keluar dari pola aktivitas normalnya, kita bisa protes.

Kebiasaan “voyeurism” semacam ini sebenarnya bukan barang baru. Majalah dan tabloid gosip sudah beredar sejak puluhan tahun lalu. Acara-acara “reality show” di televisi juga sudah banyak menghiasi layar kaca. Begitu pula dengan tayangan infotainment yang makin banyak ragamnya. Ratingnya juga selalu tinggi. Kalau acara yang satu sudah mulai terlihat saturated, acara yang lain sudah siap menggantikan. Barangkali mengintip itu memang perbuatan yang menyenangkan.

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Di semester awal kuliah saya dahulu, salah seorang dosen saya pernah berujar, “Mereka yang sukses adalah mereka yang bisa menunda kesenangan sesaat.” Sebagai bocah yang baru lulus SMA dan mencoba memahami dunia perkuliahan, kata-kata itu agak sulit untuk saya pahami waktu itu. Yang bisa saya lakukan cuma mencatat dan membacanya sambil berusaha menemukan maksud kata-kata tersebut.

Namun, seiring berjalannya waktu, barulah saya sadar bahwa sesungguhnya good things come to those who wait. Ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran. Makin sedikit yang tersedia, makin besar pula usaha kita untuk mendapatkannya, dan ketika kita mendapatkannya, kepuasan yang kita peroleh juga akan makin tinggi pula. The rarer something is, and the more we hold off on getting what we want, the greater the pleasure and pay-off when we finally do.

Ambil contoh sebuah bisnis. Mereka yang mendapatkan bagian paling duluan adalah pegawai borongan yang harus dibayar secara harian. Setelah pegawai borongan, yang mendapat bagian adalah karyawan tetap dalam bentuk gaji akhir bulan. Selain pegawai atau karyawan, supplier adalah mereka yang dibayar duluan karena barang-barang yang dibeli harus segera dilunasi. Nah, kalau masih ada uang tersisa, barulah uang itu jadi bagian si pemilik bisnis.

Siapa yang paling lama menunda kesenangannya? Pemilik bisnis. Siapa yang berusaha paling keras? Pemilik bisnis. Siapa yang mendapatkan keuntungan dan pay-off paling besar? Pemilik bisnis juga.

Faktanya, kita sekarang hidup dalam dunia yang penuh kesenangan sesaat. Instant gratification.

Logo Integra eTraining dari PT. Integra Solusi Dinamika

Integra eTraining - Pelatihan Online Pertama di Indonesia
Integra eTraining merupakan subsidiary company dari PT. Integra Solusi Dinamika.

PT. INTEGRA SOLUSI DINAMIKA

Head Office : Graha Pena suite 1608, Jln. A. Yani no. 88, Surabaya 60234.
Operational : Jln. Kap. Suwandak no. 143, Lumajang 67313

SMS / WhatsApp : 0888 0498 4828
LINE ID : etraining.space
Email : marketing@etraining.space

Jam kerja : senin s/d jumat, pkl. 08.00 s/d 16.00 WIB.

Secured & Verified by :

Comodo Ltd. Secure Site

© 2012 - 2017 PT Integra Solusi Dinamika. All Rights Reserved.